May 5, 2020

Akal, Hati dan Jiwa

By mutia

(Kajian Tazkiyatun Nafs Maskam UGM 19 Desember 2019 oleh Ustadz Syartori Abdurrauf)

Barangsiapa yang bilangan amal solehnya berulang maka dia akan berada di puncak kebaikan.

mengapa ilmu tidak membuat kita terbimbing menjadi lebih baik?

-> ilmunya dipake untuk memvonis orang lain, untuk memecah ukhuwah dikalangan umat islam.
Fatih 28 -> sesungguhnya yang dinggap khosiyah dikalangan Allah adalah orang yang berilmu. Khosiyah== takut karena keagungan Allah. takut karena kemuliaan Allah. takut karena kekuasaaNya.

Khouf== takut karena neraka, takut karena azabnya.
ketika orang berilmu -> tidak menyebabkan Allah -> akan jadi malapetaka

Yaqin ==> kekuatan yang akan membuat kita mudah melakukan semua yang baik.

Ilmu harusnya naik menjadi yakin.

kita tau bahwa Allah tau apa yang kita lakukan… kita yakin nggak? yakin dong…
tau tanpa yakin tidak akan jadi amal
tau tanpa yakin tidak akan jadi kebaikan

bagaimana kita bisa yakin?

Jika ilmu bertemu dengan khoss (takut karena keagungan Allah) ==> akan yakin
kapan ilmu bertemu dengan khoss? ketika kita sedang mencari ilmu lalu mengamalkannya…

ilmu sabar sudah kenyang? tapi kenapa blm sabar?

talabul ngilmi =
-> fi’auliya (perbuatan) : berangkat ke kajian, berangkat kerja
-> qouliya (perkataan)
-> qolbiyah —> inilah yang menyebabkan muncul khossiyah. nah bagaimana bisa menumbuhkan khossiyah itu?

  • akal+ hati+jiwa
    bagaimana jika terjadi pertentangan ketika ngaji? jadi akal+hati+jiwanya ada pertengkaran? Coba munculkan sifat khossiyah

Akal

=> harus punya sifat mustaqim (lurus) = MENERIMA

jika akal kita lurus, maka hati+jiwa kita sinkron
akal mustaqim : akal yang memandang ilmu sebagai pijakan untuk melakukan segala apapun. ada dasar ilmunya ndak ya?
bagaimana mungkin kita bisa beramal kalo tidak ada ilmu??

=> cara cek akal kita mustakim?

mana yang lebih mudah? mencari ilmu atau mengamalkan ilmu?
mana yang lebih susah? mencari tempat berpijak atau berpijaknya? Ya berpijaknya dong… berpijak pada tampat yang sudah dicari…
Sehinggaa…… mengamalkan ilmu lebih mudah daripada mencari ilmu.

-> manfaat terbaik dari ilmu adalah amal ==> mengamalkan ilmu

Hati

=> harus memiliki sifat salim = MENGAMALKAN

hati salim : hati yang memandang ilmu sebagai rambu yang menuntun manusia ketempat yang diharapkan.
akal akan membawa ilmu itu ke hati, maka hati akan melihatnya. hati akan menuntun manusia ketempat yang diharapkan.

akal membawa ilmu-> balaslah orang yang menjahati kamu dengan kebaikan -> maka hati akan melihatnya dan akan menuntun manusia -> hati nggak akan nanya kenapa sih harus berbuat baik padahal jahat. karena hati yang salim akan menjadi rambu yang akan menuntun kita.

=> cara untuk melihat hati kita salim?
mana yang lebih mudah mengerjakan solat atau khusyu ketika solat?
khusyu==> cukup mengingat Allah di dalam sholat
yang lebih mudah: mengerjakan solat

al baqarah 40 : dan minta tolonglah kalian apda Allah dengan sabar dan sholat. sesungguhnya solat itu berat kecuali bagi orang yang khusyu.

Jiwa

=> harus memiliki sifat muthmainah = MENIKMATI
jiwa muthmainah : jiwa yang sedang mengumpulkan kita ke akherat. jiwa yang memandang ilmu sebagai jembatan dunia dengan akherat.

=>cara untuk melihat jiwa muthmainah?
selalu gunakan ilmu
mana yang lebih semangat, beramal baik dengan belasan dunia yang pasti. Atau mana yang beramal baik yang balasan dunianya belum pasti.

Pertanyaan 1

hubungan hikmah, akal, hati dan jiwa?
kalo ketiganya ketemu maka akan membentuk keuatan khossiyah -> ilmu akan bertemu dengan yakin… -> dan yakin ini akan membuka pintu hikmah.
pintu hikmah tidak akan dapat dibuka kalo orang nggak yakin!
ex: kalo kita dihina, Allah mengajarkan kepada kita (ilmu) “tolaklah+balaslah keburukan orang dengan kebaikan.”
kira2 akal bisa nggak nerima ilmu itu? kalo akal nggak mustaqim, dia tidak akan menerima. dia selalu mikir bahwa nggak bisa digituin. kalo gitu nanti bakal ngelunjak.
Nah kalo akalnya mustaqim, dia mikir bahwa kalo dihina maka tidak akan selesai2 terus masalahnya. Mendingan saya kasih mangga biar senyum
—> nah ini akalnya mustaqim. Nah hatinya salim, karena mengamalkannya. Apakah nikmat? Ya…. kalo jiwa kita mutmainah… kita jadi puas, kita jadi nikmat karena melihat orang senyum karena kita beri kebaikan

orang yang melakukan amal, tapi tidak merasakan amal —> apakah akan mendapatkan hikmah dari amalnya itu? Ndak…
Tapi kalo misal kita berbakti pada orang tua, kita merasakan nikmat -> maka kita mendapatkan hikmah dari amalnya itu :”)

Pertanyaan 2

saya takut kalo solat saya tidak diterima Allah, bagaimana bisa khusyu?

  • khusyu bukan termasuk syarat sah solat. soal khusyu hanya Allah yg tau
  • caranya agar khusyu? berusahalah khusyu sebelum solat…. apapun yang terjadi di dalam solat, itulah yang terjadi diluar kita… hati kita harus menjadi hati yang salim agar bisa khusyuu…
  • kalo ada satu perbuatan hati, harusnya kita bisa lakukan tapi kok belum dilakukan…? coba cek bagaimana ikhlasnya kita, tawadu nya kita, sabarnya kita…

Pertanyaan 3

khusnuzon kepada manusia apakah khusnuzon kepada Allah?
kita harus selalu khusnuzon kepada Allah…
kuncinya di Allah dulu… yakin…
karena tidak ada sesuatu hal tanpa izin Allah…